Artikel

Resensi Buku Paradigma Kaum Tertindas

Judul buku : Paradigma kaum tertindas

Pengarang : Dr. Ali Syari’ati/ Muhammad Taqi Syari’ati

Tahun terbit : 2001

Penerbit : Islamic Center Jakarta Al Huda

Tebal buku : 142 halaman

 

Oleh IMMawati Septi Windy Lestari (Kader IMM FKIP UMS)

 

Segala bentuk penindasan, ketidakadilan dan perbudakkan yang dilakukan oleh penguasa. Pembahasan dalam buku ini di bagi atas beberapa bagian. Bagian pertama, membahas mengenai bagaimana cara memahami islam secara lebih komprehensif dan terintegrasi. Kedua, membahas mengenahi konsepsi manusia menurut doktrin islam. Ketiga, bagaimana memahami antropologi manusia konsep Allah-Iblis dan Ruh-Lempung dalam diri manusia melalui kerangka pandangan hidup tauhid. Keempat, filasafat sejarah terhadap cerita Al-Quran mengenai Qabil dan Habil dan relasinya terhadap kondisi masyarakat kontemporer serta konsepsi masyarkat dan manusia ideal. Kelima, komparasi mengenahi sosok Muhammad dengan nabi-nabi semit maupun nabi-nabi lainnya.

Dalam memahami islam bukanlah dengan mengeluh dan meratap. Kita membahas penderitaan demi adanya suatu kesadaran akan penderitaan itu. Ajaran yang kita yakini yaitu islam harus menjadi landasan kerja, kegiatan, pemikiran. Memahami islam ada beberapa cara menurut Dr. Ali Syari’ati yaitu, Mengenal Allah atau islam dengan membandingkan dengan sesembahan lainnya, Kitab suci Al-Quran dengan kitab-kitab lainnya, dan Kepribadian rasulullah dengan tokoh pembaharu islam yang masih hidup. Memahami ajaran agama islam sebagai seorang sosiolog dan sejarawan, Dr. Ali Syari’ati mencoba memberikan sebuah pendekatan dalam memahami islam sebagai agama yang mengatur semua dimensi manusia dan alam. Al-Quran telah merangkum semua ajaran Allah. Dalam buku ini, juga menyampaikan gagasan beliau mengenai konsep hijrah. Bahwa konsep hijrah bukanlah sekedar perpindahan masyarakat dari satu tempat ke tempat lainnya ataupun perpindahan kaum muhajirin ke madinah sehingga bertemu dengan kaum anshor. Selain itu, pandangan Dr.Ali Syari’ati dengan pendekatan sosiologis dan historis dalam penafsiran Al-Quran adalah mengenai Penciptaan adam dan Hawa. Adam sebagai simbol manusia pertama merupakan perpaduan antara ruh Allah yang maha tinggi dan tak terbatas dan lempung yang rendah. Manusia adalah dzat bidimensional. Manusia lebih unggul dari makhluk yang lain karena pengetahuan akan nama-nama. Dr. Ali Syari’ati menafsirkan nama-nama ini sebagai kebenaran ilmu Allah. Suatu kemampuan yang diberikan Allah kepada manusia untuk menangkap dan memahami serba kebenaran ilmiah. Dan kesanggupan untuk mengemban amanah, beliau menafsirkan sebagai kehendak bebas atau kemampuan manusia untuk memilih dan menentukan jalan sendiri.

Dalam perkembangan dan perubahan masyarakat atau manusia apa yang menjadi faktor, hingga muncul adanya anarkisme ilmiah yang berpendapat bahwa perkembangan dan perubahan tersebut terjadi secara kebetulan, kaum materialis yang berpendapat bahwa bahwa perkembangan dan perubahan terjadi seperti sebatang pohon. Yang berawal dari tunas menjadi pohon. Dan fasisme Nazi yang berpendapat bahwa nasib masyarakat berada di tangan pemimpin.

Islam merupakan ajaran sosiologi ilmiah. Dalam masyarakat manusia ada dua struktur yaitu struktur qobil dan struktur habil. Menurut marx perbudakan, penghambaan, borjuasi, feodalisme, dan kapitalisme, bukan merupakan struktur sosial melainkan dari suatu perstruktur masyarakat. Marx menempatkan ini setingkat dengan sosialisme primitif. Masyarakat islam yang ideal disebut umat. Bukan “masyarakat”, “bangsa”, “rakyat”, “klan”, dan lainnya. Itulah umat kata yang sarat dengan semangat serta mengandung progresif serta mengandung pandangan sosial yang dinamis, komit, dan ideologis. Pengelompokan manusia menggunakan kriteria hubungan darah, tanah, atau kesejahteraan material. Islam menggariskan pertanggungjawaban intelektual serta gerakan bersama sebagai landasan filsafat sosial. Kerangka dasar umat ialah ekonomi.

Suatu hasil telaah filasafat sejarah terhadap cerita-cerita Al-Quran lainnya yang selama ini belum dikaji dengan analis kontemporer adalah mengenahi kisah Qabil dan Habil. Kisah tragis pertarungan dua kutub yang terjadi sepanjang sejarah manusia, sosok Qabil sang pembunuh yang mewakili golongan penguasa tiran yang melakukan tekanan dan penindasan terhadap golongan lemah yang diwakili sosok Habil. Sistem Habil yang hidup pada zaman pengembalaan dimana semua sumber-sumber produksi digunakan bersama, hidup secara bersama, penuh keikhlasan beragama, cinta kasih, dan kesabaran diganti oleh sistem Qabil dengan sistem pertaniannya, sistem yang melahirkan manusia-manusia serba kuasa dan keji yang melakukan penindasan, perbudakan, diskriminasi ras dan kelas. Sistem yang memberikan hak milik tanpa batas kepada perseorangan dimana ditempat yang lain orang sedang mengalami kelaparan. Pembunuhan Habil oleh Qabil merupakan sebuah tafsir sosial yang sangat ilmiah dan sosiologis dimana sistem kebersamaan dan persaudaraan digantikan oleh sistem penindasan yang sangat korup.

Pertarungan abadi sepanjang sejarah manusia, yang akan diakhiri dengan kematian Qabil dan hidupnya lagi sistem Habil ( QS 25:5 ) dimana akan terbentuk suatu sistem sosial yang penuh dengan keadilan, sebuah sitem politk dan pemerintahan yang mengedepankan demokrasi, tapi bukan demokrasi dengan perhitungan kepala, bukan liberalisme tanpa tanggungjawab, bukan aristokrasi busuk, bukan fasisme, dan bukan kediktatoran yang anti rakyat tetapi kesucian kepemimpinan, kepemimpinan yang mengantarkan manusia kepada kesempurnaanya. Kepemimpinan seorang pemimpin yang telah memenangkan dirinya dari lempung dan iblis, pemimpin yang berakhlaq dengan akhlaq Allah, seorang pemimpin yang selalu berdiri dengan pedang Caesarnya siap untuk menghancurkan segala bentuk kezaliman, yang didadanya bermukim hati Yesus yang penuh welas asih, dengan otak Socrates yang mampu berfikir untuk memberi solusi atas segala permasalahan umat dan seorang pemimpin yang cintanya kepada Allah dengan cinta Al-Hallaj.

Wajah-wajah sejarah yang jelas adalah wajah kaisar, filosof, dan nabi. Dalam sosiologi, setiap kelas sosia memiliki bahasa, perasaan, pikiran, semangat, kerawanan, kecenderungan, cita-cita dan lebih khusus lagi untuk melihat segala sesuatu. Al-Quran Merangkum isi taurat, injil, filsafat, kebijaksanaan, kisah, kepercayaan, moral individu dan spiritualisme, tata aturan sosial, hukum-hukum, batasan – batasan, serta tertib sosial, material dan spiritual dunia dan akhirat.