Artikel

Resensi Buku Manifesto Gerakan Intelektual Profetik

Judul Buku : Manifesto Gerakan Intelektual Profetik

Penulis : M Abdul Halim Sani

Cetakan : Edisi Revisi, 2017

Penerbit : Muhammadiyah University Press

Tebal : 282 halaman

ISBN : 978-602-361-066-2

Peresensi : Immawan Suryo Satrio AW (Mahasiswa Arsitektur UMS, Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PK IMM Averroes 2018/19)

 

Setengah abad lebih sudah IMM sebagai organisasi pergerakan mahasiswa berperan aktif mewadahi kader kadernya dan turut serta dalam agenda kemahasiswaan secara umum. Waktu yang tergolong tidak sedikit bagi ortom dibawah persyarikatan Muhammadiyah ini. Berawal dari didirikannya di Yogyakarta pada 14 Maret 1964 oleh para penggagasnya antara lain Djazman Al Kindi, Rosyad Saleh dan tokoh Aktivis muda Muhammadiyah lain pada masa itu, IMM hingga kini dapat terus menjaga eksistensinya baik dalam roda pergerakan maupun perkaderan.

Dengan jam terbangnya yang tergolong sudah lama dan apabila kita analogikan dengan usia manusia, IMM telah masuk usia dewasa yang sudah mapan untuk menentukan masa depannya. Namun realitanya dalam tubuh IMM sendiri belum terdapat sebuah Paradigma gerak yang menjadi acuan tetap bagi kader kader IMM, dinilai gerak IMM masih terlalu luas sehingga perlu adanya Paradigma gerak yang menjadi landasan bagi laju IMM ke depan.

Dalam buku ini Abdul Halim Sani menawarkan Ilmu Sosial Profetik (ISP) yang diambil dari permikiran Kuntowijoyo sebagai Paradigma gerak Ikatan. Beliau menjelaskan bahwa buku ini sebagai refleksi buku buku IMM sebelumnya yang pernah ditulis. Diantaranya buku yang memuat sejarah IMM seperti Kelahiran yang Dipersoalkan karya Farid Fathoni, sampai kumpulan hasil pemikiran kader IMM dalam Tak Sekedar Merah oleh IMM AR Fakhruddin.

Dengan ini Abdul Halim Sani menawarkan paradigma gerak tersebut menggunakan kata Manifesto dimana paradigma gerak Profetik ini diharapkan bisa menjadi sebuah pandangan untuk mencapai tujuan IMM ke depannya. Beliau menjelaskan secara detail rumusan rumusan tersebut dalam tulisannya.

Dalam menyelaraskan ISP dengan paradigma gerak Ikatan, Abdul Halim Sani memulainya dengan mendefinisikan hakekat manusia yaitu terdiri atas Esensi dan Eksistensi yang saling berkesinambungan dimana esensi menjelaskan tentang memahami diri sendiri sebagai manusia sutuhnya, dan esksistensi sebagai aktualisasi setelah manusia memahami esensinya tersebut. Keduanya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan guna memaknai fungsi manusia dalam Ikatan.

Dalam buku ini, juga disebutkan secara rinci perihal Identitas IMM dimana Abdul Halim Sani mencoba menyelaraskan konsep Trilogi IMM dengan ISP yang asalnya merupakan perasan dari Ali Imran ayat 110 diantaranya memuat 3 point pokok Profetik yaitu Liberasi, Humanisasi, dan Transendensi. Disebutkan pula Muhammadiyah dengan gerakan Tajdidnya sebagai organisasi yang menaungi IMM. Selain itu, corak tantangan zaman yang harus dihadapi oleh Ikatan seperti adanya Globalisasi, Neo Liberalisme, dan Multikulturalisme dapat difilter dengan adanya Paradigma Profetik.

Ilmu Sosial Profetik memposisiskan manusia sebagai seorang yang dapat menggunakan ilmunya untuk melakukan Transformasi Sosial serta menjadikan pribadi sesuai dengan tujuan penciptaan manusia yaitu rahmatan lil alamin. Dengan ini Ikatan harus mampu melaksanakan geraknya antara lain Liberasi yaitu pembebasan masyarakat dari suatu perkara dzolim diantaranya membebaskan masyarakat dari bahaya kebodohan dan dari kejamnya kemiskinan, humanisasi dengan adanya perlawanan terhadap dehumaniasi yaitu manusia sudah tidak mampu memanusiakan manusia, adanya pelanggaran HAM dan lain sebagainya menjadi arah gerak Ikatan dalam Paradigma Profetik, dan terakhir transendensi dimana bentuk upaya memanusiakan dan pembebasan tersebut harus berlandaskan untuk menggapai Ridho Illahi.

Ilmu Sosial Profetik disejajarkan dengan ilmu ilmu sosial lain dan menjadikannya sebagai Paradigma yang paling ideal untuk dapat diadaptasi oleh Ikatan. Namun dalam kenyataanya ISP sendiri merupakan sebuah hasil pemikiran Kuntowijoyo yang masih belum final karena beliau telah mendahului menuju Illahi sebelum pemikiran tersebut selesai untuk dirumuskan.

Dalam buku ini, Abdul Halim Sani menjelaskan gerak IMM menggunakan kacamata profetik dengan harapan muncul penggambaran bahwa ISP merupakan suatu paradigma yang ideal untuk dapat diaplikasikan dalam Ikatan. Namun karena statusnya yang belum final membuat ISP sendiri belum dapat diterima secara seutuhnya oleh Ikatan sebagai Paradigma gerak.

Dengan memandang gerak IMM melalui kacamata Profetik membuat pembaca yang belum mengenal IMM ataupun yang masih asing dengan istilah ISP kemungkinan akan kesulitan dalam memahami buku ini, selain itu bahasa yang digunakan juga tergolong berat bagi pembaca yang masih awam. Manifesto yang merupakan judul awal dalam buku ini belum menemukan sebuah benang merahnya, hal ini dapat dimaklumi mengingat ISP sendiri merupakan sebuah pemikiran yang belum final.

Manifesto Gerakan Intelektual Profetik merupakan buku yang menarik untuk dapat dikaji oleh kader IMM, buku ini menawarkan bagaimana apabila Ilmu Sosial Profetik menjadi Paradigma gerak IMM untuk menghadapi tantangan zaman dan terus mempertahankan eksistensinya. Ada baiknya setelah membaca buku ini kader IMM dapat terpantik untuk ikut mencari paradigma apa yang paling ideal sesuai dengan jati diri Ikatan sehingga dapat dijadikan landasan gerak IMM ke depannya.

 

*dibedah dalam forum diskusi pada tanggal 27 Januari 2019