Artikel, Resensi

MEMBACA MANUSIA INDONESIA

Resensi Buku Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Indonesia

Penulis             : Prof. A. Teuuw

Penerbit           : Pustaka Jaya

Cetakan           : I, 1997

Tebal               : 428 halaman

Sumber            : Perpustakaan daring

 

Sejak ceramah kebudayaan Mochtar Lubis yang berjudul Manusia Indonesia yang disampaikan pada tanggal 9 April 1977 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta dan diterbitkan dalam bentuk buku, sesungguhnya polemik kebudayaan manusia Indonesia telah dimulai.  Mochtar Lubis dalam pidatonya tersebut menyebutkan 6 ciri-ciri manusia Indonesia yaitu 1) munafik; 2) segan dan enggan bertanggung jawab terhadap putusannya, perbuatannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya; 3) jiwa feodalistik; 4) percaya takhayul; 5) artistik; dan 6) watak yang lemah.

Keenam ciri-ciri manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis itu pada akhirnya menuai pro dan kontra baik dari kalangan akademisi, sastrawan, budayawan, seniman, politisi, pemangku kebijakan, dan aktivis-aktivis sosial yang berkecimpung dalam persoalan manusia Indonesia. Bagi orang-orang yang pro beranggapan keenam ciri manusia Indonesia itu merupakan pemikiran positif terhadap fenomena kebudyaan Indonesia yang masih terbelenggu kolonialisme dan imperialisme. Sedangkan bagi orang-orang yang kontra memprotes bernada negatif yaitu pemikiran Mochtar terlalu menggenalisir dan terkesan cepat mengambil kesimpulan, sehingga melupakan sifat-sifat baik manusia Indonesia yang pernah diterapkan dalam sebuah kebijakan politik maupun perilaku kehidupan sehari-hari manusia Indonesia.

Di sini dapat kita ambil benang merahnya bahwa perdebatan kebudayaan lebih menarik dari pada perdebatan politik maupun polemik sanksi dan hukuman yang seringkali terjadi akhir-akhir ini. Walaupun sesungguhnya antara perdebatan-perdebatan yang berlangsung itu terdapat relasi kekuasaan dan kepentingan yang sedang dimainkan oleh beberapa gelintir orang, sehingga berdampak luas terhadap kehidupan sosial. Maka di antara perdebatan yang tak kunjung usai itu perlu sejatinya jembatan pemahaman pada persoalan-persoalan sosial, ekonomi, politik, dan hukum demi tercapainya sebuah tujuan bersama. Jembatan pemahaman yang dimaksud itu adalah kebudayaan sebagai perekat keanekaragaman suku-suku, ras, bahasa, dan adat istiadat yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Melalui buku ini kita disugukan kembali ciri-ciri manusia Indonesia yang berbeda dari pemikiran Mochtar Lubis: Prof. A. Teuuw –seorang kritikus sastra ternama Indonesia- mengkaji secara detail citra manusia Indonesia dalam karya sastra Pramoedya Ananta Toer. Bagi A. Teuuw, sosok Pramoedya Ananta Toer merupakan sastrawan terkenal Indonesia yang karya-karynya mampu menggugah kegelisahan akademiknya untuk menganisis secara teoritik kesusastraan di Indonesia. A. Teuuw menerangkan karya-karya yang dihasilkan oleh Pram tidak dapat dipungkiri adalah proses kreatif pengarang yang menitikberatkan pada realitas sosial yang ia alami dan amati. Oleh sebab itu untuk mengawalinya perlu diketahui alasan A. Teuuw menulis kritik sastra karya Pramoedya Ananta Toer.

Pertama, A. Teuuw menerangkan bahwa, “Pengarang selalu hadir dalam karya yang diciptakannya, dengan seluruh kemanusiaannya, ‘suka dan dukanya, impian dan batu tarungnya, sukses dan kegagalannya’. Barangsiapa membaca karya sastra Pramoedya dan tahu sedikit banyak tentang riwayat hidupnya tidak dapat tidak terbentur pada kehadiran pengarang, walaupun hanya secara tersembunyi, dalam karya itu. Rahasia perpaduan antara pencipta dan ciptaannya, tidak dapat diterangkan dalam analisis yang paling teliti dan canggih pun. Namun, pengetahuan tentang fakta hidup setidaknya akan menjadikan pembaca lebih sadar akan perpaduan itu, tetapi juga akan rahasianya yang tidak terbongkar dan demikian akan meningkatkan ketegangan yang merupakan unsur hakiki dalam kenikmatan membaca” (hal 2).

Kedua, A. Teuuw menjelaskan bahwa Kedua, A. Teuuw menjelaskan bahwa “Perumpamaan tentang kenyataan yang ‘sungguh terjadi’ sebagai kebenaran hulu, yang lewat pengalaman batin dan imajinasi pengarang ditransformasikan menjadi kebenaran hilir karya sastra sangat mempesona. Data-data konkret, fakta dan peristiwa seakan-akan merupakan sumber sungai yang sepanjang alirannya menerima berbagai ‘masukan’ dari daerah sekelilingnya (anak sungai: data-data tambahan; daerah alirnya; konteks sosial serta pengalaman pengarang plus daya ciptanya) dan akhirnya bermuara dalam karya sastra. ‘Membaca sastra tak lain dari membaca kebenara hilir, kemampuan batin dan daya imajinasi pengarangnya” (hal 2-3).

Walaupun Pram sendiri sudah menetapkan aliran sastranya bermazhab realisme sosial yang berakar pada sastrawan Rusia termasyur Maxim Gorky. Tetapi bagi A. Teuuw selaku akademisi yang berkecimpung dalam dunia kesusatraan tidak serta merta dalam analisanya terpengaruh oleh pergolakan ideologi politik pengarang termasuk terhadap Mochtar Lubis sendiri yang berceramah tentang manusia Indonesia. Oleh sebab itulah untuk mengawali kritik sastranya yang mencitrakan manusia Indonesia dalam karya sastra Pram, ia berangkat dari latar belakang kehidupan Pram sejak kecil hingga menjadi sastrawan terkenal.

A.Teuuw membaca manusia Indonesia dalam setiap karya sastra Pram yang ia telusuri. Sesuai dengan urutan karya sastra yang ia analisa dengan sangat tajam. Ia menyebutkan bahwa manusia Pram adalah manusia Indonesia yang melampaui batas-batas identitas kesukuan. Selaku manusia Indonesia yang dibentuk berdasarkan kesadaran nasional dengan bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu yaitu Indonesia. A. Teuuw mengkaji secara mendalam konsepsi manusia Indonesia itu berdasarkan gaya kebahasaan Indonesia modern yang digunakan oleh Pram dalam setiap karya-karyanya, alur cerita yang melampaui penulisan prosa-prosa modern di Indonesia, serta isi yang mengangkat peristiwa-peristiwa sejarah masa lalu dengan menitik beratkan pada pembentukan kesadaran dan karakter nasional.

Semisal A. Teuuw membaca manusia Indonesia dalam karya Pram yang berjudul Dendam yang mana menceritakan pergolakan batin pemuda pada masa peperangan. A. Teuuw memaknai tentang kemanusiaan dalam karya tersebut yaitu “Apakah nilai (kemanusiaan-res) itu harus disebut liberal, atau universal, atau khas Barat modern, bukanlah soal yang amat menarik. Yang jelas bagi Pramoedya kemanusiaan, sesuai dengan cara ia mendekati, mendefinisikan dan menjelaskannya, merupakan tolok ukur yang dapat dipakai untuk semua nilai-nilai budaya lain, seperti keindahan, kejujuran, kebaikan, keadilan, keberanian. Dalam arti itu dapat dan harus disebut universal. Sudah tentu ada juga konsep yang khas jawa yang tidak begitu mudah diterjemahkan atau dipahami berdasarkan bahasa dan dunia konseptual Barat, seperti misalnya ‘menyerah’ yang tidak ada ekuivalennya yang tepat dalam bahasa-bahasa Barat” (hal 95-96).

Jelas bagi A. Teuuw, Pram menawarkan konsepsi manusia Indonesia melalui karya sastranya. Semisal lagi karya Pram yang mengangkat tema Blora sebagai tempat kelahirannya, bagi A. Teuuw karya itu menunjukkan bahwa Pram ingin menjelaskan kepada kita semua tentang hubungan kekeluargaan masyarakat Indonesia yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, walaupun ia sudah melanglang buana kemana pun ia menuju maupun perbedaan prinsip dan perbedaan kepentingan. Hal inilah yang sesungguhnya penulis lihat ketika mahasiswa memasuki musim libur, mahasiswa-mahasiswa itu akan pulang ke kampung halamannya masing-masing sebagai bentuk pelepas rindu kepada keluarga. Tetapi sesungguhnya apa yang hendak disampaikan oleh Pram melalui karyanya menurut A. Teuuw yaitu sejarah kecil penderitaan dan kesedihan manusia-manusia kecil Indonesia yang menggagas peristiwa-peristiwa sejarah besar yang berlangsung di Indonesia pada masa 1942-1050. Pertanyaannya, sudah sejauh manakah kita membuat sejarah kita sendiri sebagai mahasiswa dalam menggagas perubahan besar di tanah air, sebelum pada waktunya kembali kepada pangkuan ibu kandung, ibu pertiwi, maupun ibu bumi?

Membaca buku ini sesungguhnya mengingatkan penulis pada buku yang berjudul Mitos Pribumi Malas, karya Syed Hussein Alatas dan Tentang Manusia Indonesia karya Toety Herati Rooseno. Di mana dalam buku-buku tersebut dijelaskan sangat apik ciri-ciri manusia Indonesia yang menyanggah pandangan-pandangan Barat tentang manusia Indonesia pemalas, serta mendaftar ulang manusia-manusia Indonesia beserta pikiran dan perbuatannya dalam upaya menanggapi pidato kebudayaan Mochtar Lubis di atas.

Pada akhirnya membaca manusia Indonesia adalah pekerjaan kebudayaan yang sangat panjang dan menyusahkan. Tetapi menurut A. Teuuw sangat mudah apabila kita membaca karya-karya sastra Pramoedya Ananta Toer yang begitu banyak itu. Terlebih dalam kondisi sosial dan politik saat ini kita dengan sangat mudah membaca karya-karya Pram yang bertebaran di mana-mana., berbeda dengan rezim Orde Baru yang menyensor dan membakar karya-karyanya. Terkecuali karya-karya Pram yang tidak ditemukan di ruang publik, maka kita perlu mencarinya dan membacanya, menurut penulis di situlah pekerjaan yang susah dan melelahkan. Akhirul kalam, manusia Indonesia adalah manusia yang perlu memiliki karakter dan kepribadian yang manusiawi. Tetapi kemanusiaan itu perlu ditinjau ulang dari segi ideologi, ekonomi, politik, dan hukum agar kebudayaan masyarakat Indonesia tidak terjajah dan tertindas kembali. Demikian.

 

Oleh: Adhitya Yoga Pratama

(Penggemar berat Pramoedya Ananta Toer)

Ketua Umum PC IMM Kota Surakarta periode 2015-2016