Artikel

MENYALAKAN LILIN MENEBAR CAHAYA

MENYALAKAN LILIN MENEBAR CAHAYA[1]

Oleh: Kang Tris[2]

Hidup adalah soal pilihan, apakah kita akan benar-benar menjadi manusia yang utuh secara pribadi maupun sosial, ataukah hanya menjadi pelengkap saja dalam pentas jagat kehidupan. Pilihan atas peran yang kita ambil dari dua sisi kemanusiaan kita tentu mengandung konsekuensi masing-masing baik dari segi tanggung jawab maupun risiko.

Ketika kita memilih untuk menjadi manusia yang betul-betul hidup, maka tidak ada alasan sedikit pun untuk kita merasa kalah, lemah, dan tak berdaya, karena di pundak kita telah tersemat tanggung jawab kehidupan yang besar, yaitu untuk bersama-sama menjadi khalifah Allah dalam rangka memayu rahayuning bawana. Mengambil peran untuk bersama-sama mewujudkan tata kelola kehidupan mikrokosmos dan makrokosmos dalam rangka mewujudkan kesejahteraan bersama serta harmoni kehidupan yang tetap selaras.

Pilihan kedua apakah kita sekedar hidup saja. Mengikuti arus, menikmati keadaan, dan ujung-ujungnya bersikap apatis atau masa bodoh, yang penting gua happy. Maka jangan salah kalau hidupnya kadang tidak diperhitungkan atau bahkan akan diburu keadaan karena telah ikut andil mengacaukan tata kosmos kehidupan. Terpenting harus diap dihempaskan, karena ibarat residu pada tubuh yang harus cepat-cepat disingkirkan agar tidak jadi benalu, lebih jauh menjadi sumber penyakit kehidupan.

Kita fokus pada pembahasan mengenai pilihan manusia yang betul-betul hidup dan abaikan sejenak pada pilihan seolah-olah hidup. Titik dasar pijakan yang harus kita kuatkan sebagai manusia adalah menyelesaikan urusan mikrokosmos atau jagat kecil kita terlebih dahulu. Landasan filosofis teologis harus kuat mengakar pada diri kita agar tidak mudah tumbang. Selayaknya sebatang pohon yang semakin tinggi dan besar harus semakin kuat mengakar ke dalam dasar bumi.

Akar yang kuat sebagai manusia adalah nilai dasar yang diyakini dengan penuh kesadaran. Itulah yang sering disebut dengan iman atau keyakinan kepada Tuhan atau sesuatu kuasa di luar kita. Dalam sudut pandang Islam, disebut sebagai nilai-nilai Tauhid. Kenapa untuk menjadi manusia yang berdaya dan memberdayakan harus dilandasi dengan Tauhid? Pertanyaan yang mungkin sering berkecamuk pada diri kita kaum muda dan para peziarah kehidupan ini. Prinsip dasar Tauhid ini sudah familiar kita dengar yaitu pada Q.S. al-Ikhlas.

Pokok-pokok ajaran dasar yang harusnya menghujam kuat sampai ke dasar kehidupan kita, bukan hanya bertebaran bagaikan bintang yang gemerlap dalam cakrawala pikir kita, begitu fasih kita menceritakan kembangan atau penafsiran dari Q.S. al-Ikhlas tersebut, namun masih sering gamang menjalani kehidupan ini, karena dihantui oleh kekhawatiran-kekhawatiran yang kita khayalkan sendiri dan terkadang menyeret kita pada kesyirikan.

Nilai-nilai dasar Tahid yang tidak benar-benar tegak pada diri kita akan mengakibatkan kita terselimuti oleh bayang-bayang kecemasan. Bagaimana mungkin kita bisa menjadi pembawa lilin penerang atau petunjuk jalan terang yang menjadi bagian dari gerakan pencerahan ketika kita masih terselimuti oleh ilusi kehidupan yang dihembuskan oleh setan. Jadi seorang penggerak kehdupan harus terus menerus menguatkan akar Tauhidnya agar bisa kuat menghadapi terpaan kehidupan. Baginya hari demi hari adalah sebuah proses pelayanan makrokosmos dalam rangka membangun keseimbangan dengan mikrokosmos.

Kesetiaan pada tugas yang diberikan pada dirinya adalah sebuah jalan atau tarekat dalam bahasa para Salik untuk menghamba pada yang sejatinya Tuhan, yaitu Allah SWT. Kesadaran diri yang menuntun dirinya pada pemahaman tugas apapun yang dilakukan adalah amanah sebagai hamba, sehingga tidak ada kekhawatiran sedikitpun akan dirinya, karena keyakinannya sudah bulat bahwa penjamin hidupnya hanyalah Allah SWT.

Ini yang selayaknya harus terpatri kuat pada diri para pelayan kehidupan, bukan merengek meminta belas kasihan kepada sesama pejalan atau para peziarah kehidupan yang tersesat jalan. Selama para pelakuk kehidupan masih menggantungkan pada sesama pelaku atau kembang kehidupan, makan dia akan terus tertatih bukan untuk menebar manfaat, namun bergulat dengan benang ruwet dirinya.

Pertapa yang Ksatria

Pemaparan di atas, adalah pilar religiusyang harus terus dibangun dan ditegakkan untuk menebar manfaat. Ibarat dalam kisah, penegak Tauhid adalah seorang pertapa. Setelah menyelesaikan pertapaan pribadi atau uzlah dalam rangka membangun akar yang kuat, maka sang Salik harus berani topo ngrame. Sebuahupaya untuk menguji kadar Tauhid dan religiusitasnya dalam belantara kehidupan. Di sinilah seorang pertama harus siap bermetamorfosis jadi seorang ksatria. Ksatria di sini bukanlah terkait status kasta atau jabatan elitis dalam sebuah struktur sosial kemasyarakatan.

Siapapun dia yang berani untuk memayu rahayuning bawana atau siap menjadi pelayan sosial untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bersama, maka dialah seorang ksatria. Orang yang selalu gelisah melihat kejumudan masyarakat dan ketidakadilan sosial. Bisa jadi dia adalah seorang petani, pedagang, guru, tukang tambal ban, tukang ngarit dan apapun profesi duniawinya, namun selama dia memberikan hidupnya untuk orang lain, dialah ksatria.

Membaca realitas sosial untuk kemudian merumuskan dan melakukan kerja-kerja sosial adalah salah satu tanggung jawab seorang ksatria. Namun harus dilandasi nilai-nilai religius, spiritual, wahyu atau apapun orang menyebutnya, dan saya lebih condong kepada spirit Tauhid agar dia membabar diri sebagai satrio pinandito. Karena, banyak orang yang awalnya bertindak selayaknya ksatria, namun ketika sudah mapan secara posisi dia lupa pada tugas pelayanannya. Ada juga yang berpura-pura berlaku seperti ksatria, namun hanya untuk dapat data akhirnya jual beli data untuk proyek semata yang ujung-ujungnya perut sendiri yang dibesarkan. Maka nilai-nilai religiusitasnya harus betul-betul mengakar untuk melandasi gerak dan mengerem apabila sudah mulai oleng kendalinya ketika berada di zona kenyamanan.

Terus berikhtiar mencari solusi atas berbagai persoalan di tempat dia tinggal dengan landasan karena kesadaran akan tugas kekhalifahan. Maka denyut nadi masyarakat, baik kebudyaan, profesi masyarakata tata kelola lingkungan serta problem kemiskinan, pendidikan, dan kejumudan masyarakat adalah peran yang harus disematkan pada para Salik yang berproses menjadi satrio pinandito. Mereka adalah para pekerja dalam kesunyian yang sudah tidak risau dengan bising kehidupan. Jiwanya telah utuh untuk gandulan sepenuhnya hanya kepada Gusti Allah. Kerjanya adalah kerja spiritual, geraknya adalah gerak pelayanan sebagai

 

[1] Disampaikan pada agenda School of Thinking 1 dengan tema Ziarah Keheningan Berfikir, di Desa Menari, Dukuh Tanon, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Kamis, 27 April 2017.

[2] Pegiat dan Pelayan Desa Menari Wisata Tanon Lereng Telomoyo. Alumni IMM Komisariat Al-Ghazali Fakultas Psikologi UMS.